Minggu, 11 Oktober 2015

First Story

MAAF, KITA TAKKAN BISA BERSAMA


“SELAMAT PAGI SEMUA...”  sapa ku pada semua orang yang ada di tempat yang penuh dengan baju-baju,nama lainya “linen”.
“pagi juga rara:” jawab mereka.
“wah ada orang baru ini” ucap sambil melihat cowok dengan baju putih hitam ala anak traning.
“hy kak.” Ucap anak baru pada ku. What?? Gila aja aku di panggil kakak sama anak baru,jelas-jelas aku baru tamat sekolah.
“aduh..kok kakak sih? Aku tuh baru tamat sekolah tau serasa tua ni lau di panggil kakak.” Jawab ku
“mank kamu kelahiran tahun berapa?”tanya nya
“95,masih muda kan?,maka nya jangan panggil kakak.”
“aku juga tahun 95,kamu bulan apa lahirnya?”
“oh..aku bulan maret,kamu?”
“febuary”
“nah..lau gitu kamu yang tua,jadi jangan panggil aku kakak ya,panggil aja rara” ucap ku sok manis.

Itu lah awal perjumpaan ku dengan nya. Dicky itu lah nama nya. Aku memang selalu mampir ke tempat kerja mereka,bukan karena aku berkerja disitu,tapi kakak ipar ku yang berkerja disana. Aku bekerja di kantor samping tempat dia bekerja. Aku selalu pulang dengan kakak ipar,jadi setiap pulang kantor aku selalu menunggu kakak ipar ku disana. Disana aku mempunyai banyak sekali teman, banyak kakak disana yang menyukai ku,mereka menyayangi ku layaknya seorang kakak dengan adiknya,kecuali kak vian.

             vian, dia adalah pekerja di hotel yang terkenal dengan gaya sok keren nya dan sok akrabnya. Ya dari tampang nya ku juga sudah bisa tebak kalau dia adalah playboy. Wajah memang lumayan, tapi sifat nya di ragukan. Saat bertemu dengan ku,dia sok cool gitu, dia mulai melirikku. Ya..karena aku masih sakit hati dengan perlakuan mantan ku, aku jadi mulai ilfiil dengan laki-laki. dia suka mencubit pipi ku dengan tiba-tiba, hal itu yang membuat ku selalu jauh saat dia datang. Dia sudah mengatakan perasaan nya padaku, tapi aku pura-pura tak paham apa maksud perasaannya. Dia sempat marah saat aku menolak untuk diantar pulang olehnya. Ya secara gitu rumah kami tuh dari ujung-keujung. Aku tak mau di kira memberi harapan palsu padanya.  Jadi aku putuskan untuk menjauh darinya.

Dwi . kakak ku yang satu ini baik pada ku dia benar-benar menganggap aku adiknya, tapi satu yang tidak aku suka darinya adalah dia orang yang cukup alay apalagi alay nya di dunia maya (facebook). Aku malas banget saat buka fb dan yang terpamang adalah status galaunya karena pacarnya. Sejujurnya kami semua heran kenapa dia mau pacaran sama pacarnya itu. Cewek nya itu tidak cantik,tidak manis pula.  Mana suka buat kakak galau lagi. Untuk apa coba di pertahankan? Kan gak baik. Tapi ya sudahlah, aku juga gak bisa larang dia.

Gunawan. Nah lau kakak yang satu ini aku sebenarnya malas banget bicarain, dia tuh genit banget. Dah jelas-jelas punya pacar si cina mancung, tapi tetap aja nembak aku setiap kali bertemu. Oh my God, gak banget kan sifat nya, dan yang paling wow nya lagi, ternyata dia mantan kakak ipar ku. Huft.... aku gak mau lah ama bekas kakak ku. No...!!!!

Dari semua nya yang aku sukai adalah dicky, aku juga bisa merasakan bahwa dia menyukai ku,namun dia tak pernah berani mengungkapkannya. Begitu pun dengan aku. Hahah sama-sama gengsi. Suatu hari dia menghantarku pulang tapi sebelumnya kami ke mall dulu untuk membeli baju buat keponakan ku clara. Sepanjang perjalanan kami cerita dan tertawa. Itu adalah pertama kalinya  membeli perlengkapan bayi dengan laki-laki. Hahaha..lucu, kami bagaikan pasangan kekasih.

         

Sabtu,itu aku mampir ketempat kerjanya disana ada mbak Lina dan dicky. Cuaca saat itu memang tidak baik. Dan hari itu aku hanya memakai celana pendek dan baju lengan pendek pula.
“aku pulang dulu ya” pamit ku
“kamu bawa jaket?” tanya dicky
“untuk apa? Preman ni aku. Gak takut ama hujan” sombong ku
:ih..songong kali, kalau hujan nanti,trus basah dan sakit gimana?” wah perhatian banget sih dia.
“ye..gak akan hujan tau” balas ku
“udah lah pakai aja jaket ku ini.”
“ye..entar kamu ja yang pakai,lau hujan gimana? Basahkan kamu?”
“udahlah gak usah bandel..udah pakai aja ini” jawabnya sambil memberikan jaketnya pada ku.
“ih..tebal ni,aku gak mau cuci nya entar”
“ya udah gak usah cuci, besok bawa aja. Aku yang cuci entar.”  Jawabnya. Yes..hahaha aku menang. Perhatian itu yang sudah lama aku rindukan.

           

Sabtu itu aku pulang lebih awal dari jam biasanya, aku langsung mampir ke linen menunggu kakak iparku pulang, disana aku menuggu dan di temanin oleh Dicky. Waktu udah menunjukan pukul 16.00. artinya sudah satu jam aku menunggu kakak ipar ku yang tak kunjung datang menjemputku. Akhirnya ku hubungin dia dan dia bilang kalau hari ini dia lembur di kantor dan kemungkinan pulang jam 19.00. Aku mulai stress mendengarnya. Apa yang harus aku lakukan selama 3 jam di sini?

           

Saat itu Dicky sudah mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang, dia bertanya kenapa aku belum pulang juga?. Dan aku menjawab kalau kakak ipar ku pulang jam19.00 aku mulai mengerutkan wajah ku. Aku merasa sangat bosan disini ucapku. Lalu ia duduk di sebelah ku dan mengajak ku untuk menonton film lalu makan bersama. Aku kaget awalnya, namun aku senang dengan ajakanya, selain menghapus jenuh ku, itu juga dapat mendekatkan hubungan kami. Aku menyetujuinya dan kami pun berangkat.

           

Sesampainya di Mall, kami langusng mencari tempat makan, karena dia tahu kalau kerja setengah hari aku tidak pernah makan siang. Kami pun memilih tempat makan di area foodcourt. Kami duduk bersama dengan menu makanan yang berbeda pula. Aku memesan burger dan dia steak. Dia menyuapi ku steak yang dimakan nya begitu juga aku sebaliknya. Aku sangat senang saat itu. Tidak ada rasa canggung pada kami. Padahal kami tahu kalau kami bukan lah sepasang kekasih, tetapi kami bertingkah seperti sepasang kekasih. Setelah selesai makan, aku dan Dicky pergi ke Bioskop, sepanjang perjalanan, ia selalu menggandeng tangan ku. Awalnya aku takut jika orang-orang melihat. Namun aku tak bisa melepas tangan ku karena ia terlalu erat menggenggam ku.

           

Kami menonton film horor thailand, seperti yang kalian tahu, film horor thailand sangat menakutkan, cara pembunuhan yang sangat sadis membuat ku selalu menutup mata dan mencoba bersembunyi. Dicky hanya membelai rambut ku sangat ku ketakutan. Sebenarnya kami tidak ingin menonton film itu, namun tidak ada pilihan lain karena hanya film horor itu yang waktu nya dekat dengan kedatangan kami dan tidak akan memperlambat kami tuk pulang. Aku benar-benar merasa ini seperti kencan sempurna. Waktu berasa terlalu cepat berlalu. Sudah 3 jam kami menghabiskan waktu bersama. Akhirnya ia pun menghantar ku kembali ketempat kakak ipar ku.  Banyak melihat kami bersama  dan mulai menggoda kami. Tapi kami diam saja.

           

Aku merasa senang saat bersamanya. Aku pikir aku mulai menyukainya. Tapi ternyata, aku tidak boleh memilikinya. Ternyata diantara kami masih ada hubungan saudara. Dalam adat keturunan kami adalah kakak dan adik. Aku menyesal tidak mencaritahu hal itu terlebih dahulu. Ahh.. kesal nya aku. Sulit bagiku untuk move on dari mantan ku. Aku jauhi semua laki-laki yang mendekat. Tapi berbeda dengan Dicky. Aku merasa nyaman dengan nya. Tapi mengapa saat aku bisa bangkit dan menemukan yang lain aku justru tidak bisa bersamanya??. Sejak tahu hal itu kami saling menjauh. Mencoba untuk memendam dan membuang rasa sayang yang ada. Ingin ku marah,tapi apa gunanya?. Kemarahan ku tidak akan bisa mengubah takdir kami.

           

2 minggu kemudian aku mencoba untuk bersikap seperti biasa padanya. Dan ia pun sebaliknya begitu. Malam nya ada nomor baru menghubungiku.
“hallo,ni siapa?”tanya ku pada nomor yang tidak di kenal itu.
“iya sayang..met malam”kata orang dari sebrang telepon
“ih..gak usah pakai sayang lah. Aku gak tau juga kamu siapa” balas ku jutek
“aku loh yang pernah ngantar kamu pulang”
“oh..dicky? ih sok romantis panggil sayang. Ada apa? “ jawab ku
“kok dicky sih? Kapan dia ngatar kamu pulang? Dan ngapaen aja kalian?” balas nya
“loh..sok gak tau ya yang kemarin itu lah.”
“oh yaudah lah. Ini aku vian. Met malam!” jawab nya dan langsung memutuskan telepon .
kenapa coba dia harus sewot?? Kan dia bukan siapa-siapa aku. Dia mengirim pesan padaku yang isinya kalau aku tidak bisa menghargai perasaan nya. Karena aku menolak pulang dengannya tapi pulang dengan orang lain. Hel to lo hello ya kan terserah aku dunk kan aku mau milih yang nyaman aja buat ku.

           

Besoknya dicky marah pada ku karena aku cerita ke kak vian kalau kami pernah jalan dan dia menghantar ku pulang. Aku heran kenapa dia jadi ikut-ikutan marah?, kan emang benar dia menghantar ku pulang. Aku bingung harus gimana hadapi keduanya. Selidik punya selidik ternyata kak vian memprovokatori yang lain. Ia bilang ke orang-orang kalau Dicky menyukai ku dan kami saling suka. Sebenarnya emang iya sih. Tapikan cukup kami aja dunk yang tau. Dan sekarang mereka melarang kami dekat. Karena kami pasti tidak akan pernah bisa bersama. Mereka menyalahkan kedekatan kami. Mereka selalu mengingatkan kalau kami itu saudara jadi tidak boleh punya perasaan sayang dan ingin memiliki. Ya memang benar apa yang mereka katakan aku dan dia kakak beradik jauh.

           

Kami hanya bisa terdiam dan saling mengingkari perasaan kami satu sama lain. Sayang dan cinta ini terlarang. Dia pun membela diri dengan mengatakan kalau ia sudah mempunyai pacar, aku terdiam mendengar kata-kata nya. Malam nya aku mengirim pesan padanya

“met malam.. maaf ganggu Cuma mau tanya aja”

                                    “iya met malam juga. Mau tanya apa?”
                        “kamu benaran udah punya pacar ya??”

“sebenarnya belum, tapi sepertinya aku harus mencari pacar agar tidak ada lagi yang menyalahkan kita . mungkin aku akan kembali ke mantan ku”

                        “oh..baiklah. aku juga bakal menerima orang yang mengatakan cinta pada ku agar mereka tidak berfikir yang aneh-aneh lagi tentang kita.” Ucap ku bohong..
“kalau begitu kita harus jaga jarak jauh-jauh. Agar gosip itu berlalu” lanjut ku
“ mengapa begitu? Bukan itu maksud ku, justru aku berharap kalau kita punya pacar kita bisa dekat lagi seperti dulu  kerena kita sudah punya pacar masing.” Jawabnya
                        “maaf . Kita memang tak kan pernah bisa bersama. Takdir memisahkan kita. Moga dirimu bahagia dengan yang lain. Jangan pernah kita mengorbankan orang lain agar hubungan tetap terjaga. Sepertinya kita memang harus saling menjauh tuk melupakan semua tentang kita. Makasih ya buat semuanya. Met malam kakakku..”
Sejak itu,kami tak bersama lagi. Aku pun sudah tidak menunggu kakak ipar ku lagi di tempat kerja nya. Aku kesal dengan kak vian yang selalu merusak kesenangan ku. Dan aku kembali sendiri. Fokus menjalani karir dan berdiam dalam hati yang sepi. Ternyata cinta memang tidak tercipta untuk ku. Aku berharap suatu saat nanti kan ku temukan sosok pangeran yang baik dan setia serta tidak terikat hubungan saudara dengan ku. Aku tidak ingin terjerat di cinta yang salah lagi.